Sebuah Prologue
Bismillahirahmanirahim
"There's nothing lesson that i get that can make me understand, besides bring in awareness that i'm still far away from the truth".
Dalam keberadaanya, setiap makhluk hidup dibekali sesuatu untuk dapat bertahan hidup di habitatnya. Hewan memiliki insting, yang merupakan kemampuan yang menjadi dasar pertimbangan apa yang harus mereka lakukan untuk dapat survive. Insting pada hewan terbentuk melalui serangkaian pengalaman dalam hidup mereka. Sesuatu yang mereka alami secara berulang dan menciptakan sebuah muscle memory pada tubuh mereka. Sehingga ketika suatu kejadian yang pernah mereka alami itu terulang, tubuh mereka akan otomatis bereaksi sesuai dengan insting mereka. Insting ini tercipta melalui serangkaian pengalaman tanpa melibatkan proses pemikiran.
Sama halnya dengan hewan, manusia dibekali sesuatu untuk keberlangsungan hidup mereka. "Apakah mereka, seperti halnya hewan, memiliki insting untuk keberlangsungan hidup mereka?" Ya, mereka memilikinya, atau lebih tepatnya mereka dapat memilikinya. Manusia dapat melatih tubuh mereka melalui serangkaian latihan secara berulang untuk dapat menciptakan muscle memory pada tubuh mereka. Hanya, kemampuan bertahan hidup pada mannusia ini tidak hanya berhenti pada adanya insting yang berguna pada aspek bertahan hidup. Manusia memiliki suatu kemauan yang lebih daripada sekedar bertahan hidup. Hal semacam ini dikarenakan adanya kemampuan lain pada dirinya, yang tidak dimilki oleh makhluk lain, yaitu kemampuan berpikir.
Ada semacam keinginan yang lebih diatas keinginan yang hanya sekedar bertahan hidup, pada manusia. Hal ini telah umum diketahui, bahkan sejak awal masanya, manusia selalu memiliki rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang pertama kali mereka jumpai. Mereka akan berupaya mengobservasi, mengumpulkan data dan informasi serta menganalisis tentang sesuatu apapun yang mereka jumpai tersebut. Sehingga akhirnya mereka dapat memanipulasi dan memanfaatkannya untuk kepentingan mereka. Dan inilah yang membuat kebudayaan manusia berkembang jauh diatas makhluk hidup lainnya. Semua hal ini terjadi karena potensi yang ada pada diri manusia yaitu berupa akal pikiran.
Kemajuan kebudayaan manusia akibat proses berpikir terhadap semua fenomena yang ditemui manusia, memang menjadi suatu advantages bagi mereka. Namun, dalam catatan sejarah hal ini tidak sepenuhnya benar. Ada kalanya, pengetahuan yang didapat dari proses berpikir oleh manusia menjadi suatu kemunduruan bagi peradaban mereka sendiri. Sebut saja penemu teori atom Neils Bohr, yang penemuannya menjadi dasar untuk pembuatan senjata bom atom, yang pada masa perang dunia kedua digunakan oleh Amerika untuk menyerang kota Nagashima dan Hirosaki di Jepang.
Pepatah mengatakan bahwa "the most powerfull weapon is knowledge" senjata terkuat adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dapat dikatakan adalah suatu raw material dari terciptanya suatu teknologi. Ilmu pengetahuan ini bersifat ganda, artinya dapat membawa suatu kemajuan atau mendatangkan sebuah kemunduran bagi peradaban manusia. Hal ini tentunya tergantung dari manusia sebagai user dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Perbedaan kultur, pembelajaran, perspektif/cara pandang, serta penilaian akan melahirkan suatu sikap pemahaman yang berbeda-beda. Yang terkadang kekeliruan dalam menyikapi suatu pengetahuan akan terjadi dari perbedaan ini.
Hal yang dapat menuntun manusia pada kemajuan dan perkembangan atau bahkan kehancuran peradaban manusia adalah tingkat intelegensi. Secara harfiah intelegensi adalah aktivitas atau prilaku yang merupakan perwujudan dari daya atau potensi untuk memahami sesuatu. Dapat disimpulkan bahwa daya/potensi yang dimiliki manusia disini adalah mindset. Yang tercipta dari proses pembelajaran, pengalaman, serta penilaian terhadap segala sesuatu hal dihidup mereka. Mindset atau pola pikir inilah yang menjadi processor yang menghasilkan output berupa pemahaman dari sebuah objek atau peristiwa yang diamati. Tingkat intelegensi setiap manusia akan berbeda-beda dikarenakan jalan hidup mereka yang tidak sama. Perbedaan inilah yang terkadang membuat sebuah pengetahuan menjadi conflict interest banyak pihak. Pengetahuan sejatinya bersifat netral, yang berarti pengetahuan dapat bersifat membangun (positif) atau merusak (negatif). Sifat netralnya inilah yang membuat setiap manusia memiliki kepentingannya masing-masing terhadap pengetahuan tersebut. Sebagai contoh, penemuan fusi nuklir, sebagian orang akan memiliki pandnagan bahwa kebutuhan energi yang bersih akan terpenuhi dengan adanya penemuan ini. Namun, dilain pihak akan ada yang berpandangan bahwa pengetahuan ini dapat menjadi dasar langkah awal dalam pembuatan senjata berbasis nuklir.
Kita hidup ditempat dimana segalanya berlangsung dengan keterpaduan yang terjalin secara seimbang antara semua unsur didalamnya. Perubahan yang terjadi pada satu unsur akan berdampak pada unsur lainnya. Jika perubahan yang terjadi ini melahirkan sebuah ketidak-seimbangan di alam tempat kita tinggal. Kerusakan alam akan menjadi konsekuensi yang mutlak terjadi. Dan apabila ini berlangsung terus-menerus akan berdampak pada eksistensi populasi yang hidup didalamnya. Perubahan ini lahir dari keinginan manusia untuk dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ditemuinya. Dan hal ini adalah suatu hal yang wajar. Bahkan, dalam kitab suci al-quran pun dikatakan segala yang ada di bumi diperuntukan untuk anak-cucu Adam agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Namun, dalam perjalanannya, upaya pemanfaatan oleh manusia ini sering terjadi secara berlebihan. Yang pada akhirnya kelebihan berupa kemampuan intelegensi manusia, hanya melahirkan pemahaman yang berujung eksploitasi dan menjurus pada kerusakan.
Keingintahuan manusia untuk melahirkan sebuah pemahaman dan memanfaatkannya memang bukan sesuatu yang haram dilakukan. Bahkan, hal tersebut adalah konsekuensi logis daripada kemampuan berpikir yang dimiliki manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan akal pikirannya bukanlah tanpa sebab. Dengan kemampuan intelegensinya, manusia dituntut untuk dapat mengambil suatu pengetahuan (hikmah) dari sebuah design sempurna yang telah diciptakan oleh-Nya. Manusia dituntut untuk memahami hakikat keberadaanya di dunia. Dan mengharmonisasikannya dengan pengetahuan yang ia dapatkan. Itulah peranan eksistensi dari seorang manusia. wallahu a'lam bishawab
"Mengorkestrasikan unsur-unsur yang ada dengan simfoni pengetahuan yang dimiliki sampai hingga tercipta harmoni"
Comments
Post a Comment